Sabtu, 05 Maret 2011

Belajar dari Kesalahan

Pepatah mengatakan gajah di depan mata tak nampak tapi semut di seberang lautan terlihat jelas. Begitulah antara lain sifat manusia.

Tak ada manusia yang luput dari kesalahan. Maka dari itu Allah SWT berfirman dalam Surat Al Ashr agar kita harus senantiasa saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran.

Menasehati adalah bagian dari kasih sayang. Karena itu, sebaiknya dilakukan dengan cara yang baik. Menasehati adalah memberitahukan apa kesalahan seseorang dan bagaimana dia harus memperbaiki diri. Menasehati itu bukan menyudutkan atau mempermalukan. Nasehat yang disampaikan dengan cara yang kurang tepat malah akan menimbulkan dendam, bukannya kesadaran.

Orang yang belum pernah melakukan kesalahan berarti belum berbuat apa2. Anak yang belajar jalan pasti pernah terjatuh. Orang yang ingin berhasil pasti pernah terhempas. Namun janganlah kalah oleh keledai. Keledai pun tak akan terantuk dua kali pada lubang yang sama.

ORANGTUA DAN PENDIDIKAN

Menjadi orangtua bukanlah hal yang mudah. Banyak yang harus dipelajari, itupun bila mau belajar. Tapi kebanyakan orangtua merasa bahwa instink dan naluri adalah bekal utama menjadi orangtua, sehingga janggal terdengar bila ada pelajaran menjadi orang tua. Atau adakah lembaga yang berminat membuka sekolah untuk menghasilkan orangtua yang cerdas?

Ketika kecil, saya menganggap segala yang dilakukan oleh orang dewasa (orangtua, guru dan orang dewasa lainnya) adalah benar. Saya mengira segala perilaku atau tutur kata mereka layak dituruti.

Sekarang, saya telah menjadi orangtua. Saya khawatir kesalahan yang tak saya sadari akan diserap oleh anak-anak dan menjadi bagian dari hidupnya. Karena itu saya harus terus sekolah, antara lain dengan cara share dengan para orangtua yang telah berpengalaman. Tak selamanya kita sukses dalam mendidik, tapi tak selamanya pula kita gagal. Silakan share-nya dituliskan untuk saya. terima kasih.