Seandainya saja saya bisa membesarkan ulang anak saya
Saya akan lebih banyak bermain cat, dan mengurangi main perintah
Saya akan lebih sedikit mengoreksi, dan lebih banyak mengait-ngaitkan
Saya akan sedikit menghitung-hitung waktu, dan lebih banyak memperhatikan
Saya akan mengurangi main selidik, dan lebih banyak memperhatikan
Saya akan lebih sering berjalan-jalan, dan lebih sering bermain layang-layang
Saya akan mengurangi bersikap serius, dan lebih serius bermain-main
Saya akan lebih sering bermain-main di lapangan, dan lebih banyak mengamati bintang-bintang
Saya akan lebih banyak memeluk, dan lebih sedikit membentak
Saya akan tidak melarang-larang, dan lebih banyak mengiyakan
Saya akan lebih dulu membangun harga dirinya, sebelum membangun rumah
Saya akan lebih sedikit mengajarkan cinta akan kekuatan, dan lebih banyak mengajarkan kekuatan cinta
(Full Esteem Ahead, dalam Revolusi Cara Belajar by Gordon Dryden & Jeanettse Vos)
Corat Coret
Yang mengganjal di hati
Minggu, 02 Oktober 2011
Rabu, 01 Juni 2011
KEPADA BENDERA MERAH PUTIH, HORMAAAT GRAK!
Oleh: Lorentina, S.Pd
Beberapa siswa yang datang terlambat melenggang tenang melintasi sudut lapangan upacara masuk menuju kelasnya. Sementara ratusan siswa lainnya tengah khidmat dalam posisi sikap sempurna sambil menghormat sang saka merah putih.
Upacara bendera sudah menjadi rutinitas kita. Karena terlalu seringnya, kekhidmatan kurang terasa bahkan terkadang tak meninggalkan apa-apa.
Pada masa perjuangan kemerdekaan, pengibaran bendera merupakan suatu peristiwa yang luar biasa. Peristiwa yang dinanti, dirindukan, dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Konon saat bendera tengah dikibarkan, orang yang lalu lalang pun akan berhenti. Walau tidak dalam posisi memberi penghormatan, minimal mereka terdiam.
Demikian pula saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Bait demi baitnya yang menghipnotis, mengobarkan semangat nasionalisme, menghadirkan rasa haru, menumbuhkan rasa rindu akan sebuah bangsa yang bersatu.
Ernest Renan menyebutkan bahwa sebuah bangsa terbentuk karena memiliki persamaan sejarah di masa lalu dan persamaan cita-cita di masa depan. Bangsa Indonesia memiliki sejarah yang sama. Ratusan tahun berada dalam cengkeraman kaum kolonial. Lalu founding fathers bangsa inipun menyuarakan cita-cita yang sama pula. Kita bisa cermati cita-cita mereka dalam pembukaan Undang-undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 alinea ke-4 yaitu membentuk pemerintahan yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.
Sebuah bangsa memerlukan simbol atau lambang tertentu untuk mengikat mereka dalam satu jiwa kolektif. Sesuatu yang dapat mengingatkan spirit awal yang melatarbelakangi keberadaan mereka sebagai suatu bangsa yang diakui dunia.
Bendera merupakan salah satu simbol yang dimaksud. Silakan amati bendera semua negara. Di dalamnya pasti terkandung nilai-nilai filosofis dan historis yang melatarbelakangi lahirnya bangsa tesebut. Bahkan beberapa negara menambahkan simbol-simbol keagamaan yang dianutnya. Selembar kain putih dan selembar kain merah tidak bermakna apa-apa. Tapi bila kedua kain itu disatukan menjadi sehelai bendera, tak boleh lagi dianggap sembarangan.
Jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah, adalah ungkapan tekenal Ir. Soekarno, yang selalu up to date untuk kita . Dalam bahasa anak muda sekarang adalah “jangan seperti kacang lupa akan kulitnya”.
Nilai historis dan filosofis sang saka Merah Putih tak diragukan lagi. Warna merah melambangkan keberanian. Berani menghadapi rintangan, tantangan bahkan mengorbankan jiwa raga demi kemerdekaan. Warna putih berarti suci. Perjuangan yang dilandasi niat tulus suci untuk mempersembahkan kemerdekaan bagi bangsa. Tak ada niat untuk berkuasa, cari muka ataupun pamer guna mengharap pujian sesama.
Semangat merah putih harus senantiasa terpelihara di dada generasi muda. Dalam hal ini, guru memiliki peran strategis untuk mewariskan jiwa nasionalisme melalui proses pendidikan. Antara lain melalui pelaksanaan upacara bendera yang dilaksanakan dengan tertib dan khidmat.
“merah putih teruslah kau berkibar, di ujung tiang tertinggi, di Indonesiaku ini, ku akan slalu menjagamu” (Grup Band Cokelat).
Beberapa siswa yang datang terlambat melenggang tenang melintasi sudut lapangan upacara masuk menuju kelasnya. Sementara ratusan siswa lainnya tengah khidmat dalam posisi sikap sempurna sambil menghormat sang saka merah putih.
Upacara bendera sudah menjadi rutinitas kita. Karena terlalu seringnya, kekhidmatan kurang terasa bahkan terkadang tak meninggalkan apa-apa.
Pada masa perjuangan kemerdekaan, pengibaran bendera merupakan suatu peristiwa yang luar biasa. Peristiwa yang dinanti, dirindukan, dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Konon saat bendera tengah dikibarkan, orang yang lalu lalang pun akan berhenti. Walau tidak dalam posisi memberi penghormatan, minimal mereka terdiam.
Demikian pula saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Bait demi baitnya yang menghipnotis, mengobarkan semangat nasionalisme, menghadirkan rasa haru, menumbuhkan rasa rindu akan sebuah bangsa yang bersatu.
Ernest Renan menyebutkan bahwa sebuah bangsa terbentuk karena memiliki persamaan sejarah di masa lalu dan persamaan cita-cita di masa depan. Bangsa Indonesia memiliki sejarah yang sama. Ratusan tahun berada dalam cengkeraman kaum kolonial. Lalu founding fathers bangsa inipun menyuarakan cita-cita yang sama pula. Kita bisa cermati cita-cita mereka dalam pembukaan Undang-undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 alinea ke-4 yaitu membentuk pemerintahan yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.
Sebuah bangsa memerlukan simbol atau lambang tertentu untuk mengikat mereka dalam satu jiwa kolektif. Sesuatu yang dapat mengingatkan spirit awal yang melatarbelakangi keberadaan mereka sebagai suatu bangsa yang diakui dunia.
Bendera merupakan salah satu simbol yang dimaksud. Silakan amati bendera semua negara. Di dalamnya pasti terkandung nilai-nilai filosofis dan historis yang melatarbelakangi lahirnya bangsa tesebut. Bahkan beberapa negara menambahkan simbol-simbol keagamaan yang dianutnya. Selembar kain putih dan selembar kain merah tidak bermakna apa-apa. Tapi bila kedua kain itu disatukan menjadi sehelai bendera, tak boleh lagi dianggap sembarangan.
Jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah, adalah ungkapan tekenal Ir. Soekarno, yang selalu up to date untuk kita . Dalam bahasa anak muda sekarang adalah “jangan seperti kacang lupa akan kulitnya”.
Nilai historis dan filosofis sang saka Merah Putih tak diragukan lagi. Warna merah melambangkan keberanian. Berani menghadapi rintangan, tantangan bahkan mengorbankan jiwa raga demi kemerdekaan. Warna putih berarti suci. Perjuangan yang dilandasi niat tulus suci untuk mempersembahkan kemerdekaan bagi bangsa. Tak ada niat untuk berkuasa, cari muka ataupun pamer guna mengharap pujian sesama.
Semangat merah putih harus senantiasa terpelihara di dada generasi muda. Dalam hal ini, guru memiliki peran strategis untuk mewariskan jiwa nasionalisme melalui proses pendidikan. Antara lain melalui pelaksanaan upacara bendera yang dilaksanakan dengan tertib dan khidmat.
“merah putih teruslah kau berkibar, di ujung tiang tertinggi, di Indonesiaku ini, ku akan slalu menjagamu” (Grup Band Cokelat).
Sabtu, 05 Maret 2011
Belajar dari Kesalahan
Pepatah mengatakan gajah di depan mata tak nampak tapi semut di seberang lautan terlihat jelas. Begitulah antara lain sifat manusia.
Tak ada manusia yang luput dari kesalahan. Maka dari itu Allah SWT berfirman dalam Surat Al Ashr agar kita harus senantiasa saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran.
Menasehati adalah bagian dari kasih sayang. Karena itu, sebaiknya dilakukan dengan cara yang baik. Menasehati adalah memberitahukan apa kesalahan seseorang dan bagaimana dia harus memperbaiki diri. Menasehati itu bukan menyudutkan atau mempermalukan. Nasehat yang disampaikan dengan cara yang kurang tepat malah akan menimbulkan dendam, bukannya kesadaran.
Orang yang belum pernah melakukan kesalahan berarti belum berbuat apa2. Anak yang belajar jalan pasti pernah terjatuh. Orang yang ingin berhasil pasti pernah terhempas. Namun janganlah kalah oleh keledai. Keledai pun tak akan terantuk dua kali pada lubang yang sama.
Tak ada manusia yang luput dari kesalahan. Maka dari itu Allah SWT berfirman dalam Surat Al Ashr agar kita harus senantiasa saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran.
Menasehati adalah bagian dari kasih sayang. Karena itu, sebaiknya dilakukan dengan cara yang baik. Menasehati adalah memberitahukan apa kesalahan seseorang dan bagaimana dia harus memperbaiki diri. Menasehati itu bukan menyudutkan atau mempermalukan. Nasehat yang disampaikan dengan cara yang kurang tepat malah akan menimbulkan dendam, bukannya kesadaran.
Orang yang belum pernah melakukan kesalahan berarti belum berbuat apa2. Anak yang belajar jalan pasti pernah terjatuh. Orang yang ingin berhasil pasti pernah terhempas. Namun janganlah kalah oleh keledai. Keledai pun tak akan terantuk dua kali pada lubang yang sama.
Langganan:
Postingan (Atom)