Tampilkan postingan dengan label nasionalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasionalisme. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juni 2011

KEPADA BENDERA MERAH PUTIH, HORMAAAT GRAK!

Oleh: Lorentina, S.Pd

Beberapa siswa yang datang terlambat melenggang tenang melintasi sudut lapangan upacara masuk menuju kelasnya. Sementara ratusan siswa lainnya tengah khidmat dalam posisi sikap sempurna sambil menghormat sang saka merah putih.
Upacara bendera sudah menjadi rutinitas kita. Karena terlalu seringnya, kekhidmatan kurang terasa bahkan terkadang tak meninggalkan apa-apa.

Pada masa perjuangan kemerdekaan, pengibaran bendera merupakan suatu peristiwa yang luar biasa. Peristiwa yang dinanti, dirindukan, dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Konon saat bendera tengah dikibarkan, orang yang lalu lalang pun akan berhenti. Walau tidak dalam posisi memberi penghormatan, minimal mereka terdiam.

Demikian pula saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Bait demi baitnya yang menghipnotis, mengobarkan semangat nasionalisme, menghadirkan rasa haru, menumbuhkan rasa rindu akan sebuah bangsa yang bersatu.

Ernest Renan menyebutkan bahwa sebuah bangsa terbentuk karena memiliki persamaan sejarah di masa lalu dan persamaan cita-cita di masa depan. Bangsa Indonesia memiliki sejarah yang sama. Ratusan tahun berada dalam cengkeraman kaum kolonial. Lalu founding fathers bangsa inipun menyuarakan cita-cita yang sama pula. Kita bisa cermati cita-cita mereka dalam pembukaan Undang-undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 alinea ke-4 yaitu membentuk pemerintahan yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Sebuah bangsa memerlukan simbol atau lambang tertentu untuk mengikat mereka dalam satu jiwa kolektif. Sesuatu yang dapat mengingatkan spirit awal yang melatarbelakangi keberadaan mereka sebagai suatu bangsa yang diakui dunia.
Bendera merupakan salah satu simbol yang dimaksud. Silakan amati bendera semua negara. Di dalamnya pasti terkandung nilai-nilai filosofis dan historis yang melatarbelakangi lahirnya bangsa tesebut. Bahkan beberapa negara menambahkan simbol-simbol keagamaan yang dianutnya. Selembar kain putih dan selembar kain merah tidak bermakna apa-apa. Tapi bila kedua kain itu disatukan menjadi sehelai bendera, tak boleh lagi dianggap sembarangan.

Jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah, adalah ungkapan tekenal Ir. Soekarno, yang selalu up to date untuk kita . Dalam bahasa anak muda sekarang adalah “jangan seperti kacang lupa akan kulitnya”.

Nilai historis dan filosofis sang saka Merah Putih tak diragukan lagi. Warna merah melambangkan keberanian. Berani menghadapi rintangan, tantangan bahkan mengorbankan jiwa raga demi kemerdekaan. Warna putih berarti suci. Perjuangan yang dilandasi niat tulus suci untuk mempersembahkan kemerdekaan bagi bangsa. Tak ada niat untuk berkuasa, cari muka ataupun pamer guna mengharap pujian sesama.

Semangat merah putih harus senantiasa terpelihara di dada generasi muda. Dalam hal ini, guru memiliki peran strategis untuk mewariskan jiwa nasionalisme melalui proses pendidikan. Antara lain melalui pelaksanaan upacara bendera yang dilaksanakan dengan tertib dan khidmat.

“merah putih teruslah kau berkibar, di ujung tiang tertinggi, di Indonesiaku ini, ku akan slalu menjagamu” (Grup Band Cokelat).